Sore Ini, Aku Membenci Hujan
18.30Dengan langkah gontai dan mata yang setengah mengantuk, aku berjalan
menyusuri Jalan Jawa IV dengan tas punggung yang masih melekat di
tubuhku. Malam itu, kira-kira pukul 21.45 wib aku baru pulang dari
kampus. Belum terlalu malam untuk seorang perempuan malam sepertiku,
tapi Gang Jawa malam ini tidak seperti biasanya. Malam ini begitu sepi
dan mencekam. Bulu kudukku berdiri ditiup angin yang berhembus tidak
wajar seperti malam sebelumnya.
Setelah sampai di tikungan menuju kosanku, aku mendengar langkah kaki
di belakang. Langkahnya serasa mau mengejarku namun tidak ingin
diketahui olehku. Jangankan menoleh, melangkah pun aku tak mampu. Waktu
seakan berhenti hanya untukku dan mengisyaratkan sebuah doktrin bahwa
aku akan mati malam ini. Langkah kaki di belakangku semakin dekat dan
tangannya yang panjang mendekapku dari belakang. Aku menjerit tapi
sepertinya suaraku tidak dapat didengar oleh orang-orang di dalam kosan.
Tak bertahan lama, tubuhku lemas dan akhirnya tak sadarkan diri.
Ketika aku terbangun, aku mendapati selimut tebal melekat di tubuhku
dan beberapa kertas berisi puisi bodoh yang kutulis dua hari lalu. Tak
ada lagi orang asing yang tadi mendekapku. Kemana dia? ah…skeptis sekali
pertanyaanku. Orang itu tidak ada dan tidak pernah ada. Ini semua hanya
bunga, si teman tidurku.
Rasanya enggan untuk bangun di hari libur yang jarang kunikmati
seperti ini. Namun mengingat cucian yang numpuk dan kamar yang mirip
kapal pecah, aku beranjak berdiri dan dengan berat hati meninggalkan
kasur empukku. Kubuka jendela kamar diikuti derit terali besi yang sudah
berkarat. Matahari menerobos memperlihatkan keangkuhannya tepat di
mataku. “ah…sudah pagi ternyata,” desahku. Suara ribut teman-teman kost
membuatku malas untuk kembali terlelap. Sekedar merenggangkan otot-otot
yang tujuh jam tak berfungsi sepenuhnya, aku melakukakn gerakan kecil
agar fungsi ototku kembali normal. Lima belas menit cukup untuk
melakukan semua itu.
Aku melangkah menuju tempat cucian dengan membawa setumpuk pakaian
yang sudah satu minggu mendekam di kolong tempat tidur. Tak seperti
biasanya, hari ini jemuran sepi dari pakaian teman-teman. Itu membuatku
berpikir pasti cucianku cepat kering. Tidak lebih dari satu jam aku
meninggalkan cucian yang menggantung di jemuran.
Bebas sekali rasanya hari ini. Tak ada ceramah dosen atau pun
tugas-tugas yang menjadi rutinitas dari kampus. Aku melihat hp menunggu
sms dari seseorang. Tak ada pesan yang kuharapkan. Mungkin dia masih
terlelap. Kuarahkan jariku ke menu musik mendengarkan lagu di playlist. Kuputar keras-keras sembari membersihkan si kapal pecah.
Rasa lelah menyelimuti tubuhku. Keringat tak henti-hentinya menetes.
Kunyalakan kipas angin dan berbaring di dekat jendela kamarku. Angin
semilir menyapaku lembut. Rasa kantuk mulai terasa lagi. Akhirnya tak
dapat kutahan dan mataku terpejam. Aku terbangun tepat pukul 15.25 wib,
namun tak ada sms dari orang menyebalkan itu.
Aku melihat sesuatu yang ganjal dari jendela. “Sial…hujan deras
sekali!” umpatku. Teringat cucian di jemuran, aku berlari dan hampir
kepeleset di lantai yang baru saja dipel oleh temanku. Terlambat,
cucianku telah basah oleh air hujan dan enggan untuk melihatnya.
Hari semakin sore, namun hujan tak juga berhenti. Sms yang kutunggu
tak muncul membuat kekesalanku memuncak. Mengawali bukan sesuatu hal
yang buruk. Akhirnya, kukesimpangkan rasa gengsiku untuk sms orang
menyebalkan itu. Lebih tepatnya kekasihku yang menyebalkan. Tak beberapa
lama, ada balasan darinya. Sebuah permintaan maaf karna tak bisa
menemaniku malam ini. Aku maklum karna hujan tak kunjung berhenti.
Keterima alasannya dan sesekali memandangi hujan yang menghalangi dia
menemuiku. Mataku merah namun kali ini bukan rasa kantuk yang kurasakan,
melainkan merah karna hujan tak kunjung reda.
Tepat pukul 18.15 wib, aku mendengar suara motor di depan kosku. Aku
mengenal suara motor itu. Aku beranjak keluar dan melihat sesosok orang
yang tak asing lagi buatku. Sepertinya, hujan tak membuat dia
mengingkari janjinya untuk menemuiku. Kupandangi wajahnya lama-lama dan
tubuhnya yang basah oleh air hujan. “Dasar orang bodoh, sudah tau hujan
tetap saja kesini!” bentakku keras. Aku menerima alasan dia tidak
menemuiku karna hujan, tapi orang bodoh ini malah nekat menerjangnya.
Dia tertunduk tak berkata apa-apa. Aku iba melihat hal seperti ini.
Kududukkan dia di bangku depan kosan dan mulai mengajaknya bicara pelan.
Sebenarnya senang juga dia datang, tapi kalau ujung-ujungnya
menimbulkan sakit di tubuhnya ya lebih baik tidak bertemu.

1 komentar
ra enek seng ngentasne kumbahane to?
BalasHapus