Trauma

19.30

Cerpen berikut ini adalah salah satu cerpen dalam jurnal cerpen Tikungan #1

Malam itu, langit tampak tak bersahabat. Sejak sore gerimis menyertai si awan kelabu. Para penerbang terlihat berbeda dari hari-hari biasanya, kembali ke sarang lebih awal dari sebelumnya.
Tatapan orang itu tetap tajam dan tak baralih dari mataku. Tubuhnya kesakitan akibat pukulan dari tubuh yang lebih kekar darinya. Malam itu dia dihakimi oleh keluarganya karena mencuri motor milik tetangga dan dijual. Uang hasil penjualan motor dibuatnya untuk berjudi. Aku tak puas melihat pemandangan itu. Dia lebih pantas mendapat perlakuan yang lebih sadis dari ini atas tindakan kejinya satu bulan yang lalu terhadapku. Tak cukup hanya dengan pukulan atau tamparan, dia seharusnya termasuk—seperti kata Soe Hok Gie—”orang-orang yang pantas ditembak mati di lapangan banteng”. Sesekali aku tersenyum melihat dia kesakitan. Dan dia semakin menatap tajam ke arahku, namun tatapanku lebih tajam dari bajingan itu.

”Mati saja kau biadab!” kataku dalam hati.

Ada kepuasan sendiri buatku saat dia berteriak kesakitan mendapat pukulan dari bapaknya. Kejadian itu disaksikan juga oleh beberapa tetangga dan kerabat dekat. Dino, sahabat kecilku yang sedari tadi bermain dengan kelerengnya di sampingku tiba-tiba manatapku ketakutan.

”Wajahmu kenapa?” tanya Dino tanpa memperhatikan kakak sepupunya kesakitan karena pukulan.

Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. Senyum yang pahit namun mengisyaratkan sesuatu. Dino semakin ketakutan melihat wajahku yang lain dari biasanya. Dia berlari dan bersembunyi di belakang punggung ibunya yang sedari tadi menangis karena keponakannya meraung kesakitan. Tidak lebih dari satu jam, wajah Didik, si laki-laki bejat itu memar oleh tangan bapaknya. Aku semakin menyukai pemandangan ini.

Apa yang dirasakan Didik tak cukup untuk membayar apa yang terjadi padaku belakangan ini. Trauma atas kejadian satu bulan yang lalu tak bisa hilang dari ingatan anak kecil berumur 6 tahun.

***
Dino, sahabatku, lebih tua satu tahun dariku. Hampir setiap hari kami selalu bermain bersama. Kedua orang tua kami juga bersahabat. Siang itu, Didik, kakak sepupu Dino tiba-tiba datang dan bergabung bersama kami. Didik lebih tua sepuluh tahun dariku dan sembilan tahun dari Dino. Sejak pertama kali melihat Didik aku langsung tidak menyukai orang ini. Tatapannya yang menakutkan membuatku tak berani dekat-dekat dengannya. Aku mengenalnya lama dan setiap bertemu Didik, aku selalu menundukkan kepala kerena takut. Wajahnya juga tak bersahabat denganku. Entah setan apa yang merasuki tubuhnya, siang itu, Didik tiba-tiba baik sekali padaku. Wajahnya selalu tersenyum setiap melihatku. Tapi aku malah semakin muak melihatnya demikian.

Didik mengajak aku dan Dino bermain ke gudang milik nenek mereka. Awalnya aku menolak karena tidak menyukai gudang itu. Tapi Didik bersikeras mengajak kami bermain di gudang. Tempat itu pengap dan hanya sedikit udara yang bisa masuk lewat celah jendela yang tertutup.

”Din, tolong ambilkan gunting di rumah nenek!” perintah Didik tiba-tiba pada Dino.

Dino menurut saja atas perintah Didik dan langsung berlari keluar gudang tanpa bertanya untuk apa Didik menyuruhnya mengambil benda itu.

”Lalu tugasku apa Mas?” tanyaku pada Didik ketakutan.

”Tidak usah, kau disini saja!” jawabnya.

Didik menuju ke arah pintu gudang dan menguncinya dari dalam. Aku semakin tidak mengerti akan hal ini. Kurapatkan tubuhku ke pojok gudang dan duduk bersimpuh sambil memegang erat bonekaku yang sedari tadi kupegang. Didik menuju ke arahku dengan mata yang menakutkan. Dia semakin mendekat dan meraih tubuh kecilku. Aku berteriak namun Didik membungkam mulutku dengan tangannya yang besar.

Engsel pintu gudang bergerak. Sepertinya itu Dino yang berusaha membuka pintu. Aku berusaha keras melepas tangan Didik dari mulutku. Namun sia-sia saja, tenaganya lebih kuat dari anak seumuranku. Engsel pintu tak lagi bergerak. Sepertinya Dino berpikir aku dan Didik sudah pergi meninggalkan gudang. Aku mendengar langkah Dino menjauh dari tempat itu. Pelan-pelan Didik membuka pakaianku dan berbuat hal yang aku sendiri tak paham apa yang dilakukannya. Yang jelas tubuhku kesakitan akan perbuatannya.

Setelah puas akan perlakuannya padaku, laki-laki bajingan itu meninggalakanku yang menangis kesakitan di gudang yang pengap. Langkahku tertatih ke luar gudang menuju rumah dengan bau anyir yang terus keluar dari vagina. Aku semakin bingung apa yang terjadi pada tubuhku.

***
Satu hari sejak kejadian itu, kakiku lumpuh. Aku pun menjadi anak yang pendiam. Tak banyak bicara pada semua orang, termasuk orang tuaku. Ibuku hanya bisa menangis melihat putri semata wayangnya berubah demikian. Setiap pagi, ayahku menggendongku ke sekolah karena aku memang tak bisa berjalan sama sekali. Untuk menggerakkan kakiku sedikit pun, aku tak mampu. Sejak kakiku lumpuh, teman-temanku juga mulai mejauhuiku. Hanya Dino yang mau berteman dengan anak lumpuh sepertiku. Dino senantiasa menemaniku bermain di rumah setiap hari.
 ***
Akhirnya ayahku memutuskan untuk membawaku ke seorang dukun pijat kenalannya. Selang beberapa hari, kakiku mulai pulih. Aku sudah bisa menggerakkan kakiku dan mulai bisa berjalan. Walaupun keadaan kakiku mulai pulih, namun bayangan tentang laki-laki bajingan itu tak bisa baralih dari ingatanku. Semakin hari, wajahnya semakin menjijikkan saja.
Tak ada yang mengetahui apa yang terjadi padaku, kecuali diriku sendiri. Semua orang menganggap kakiku lumpuh kerena terjatuh. Ibuku lega melihat putrinya dapat berjalan seperti semula. Kakiku memang kembali normal, namun trauma itu tetap menghantui sampai aku beranjak dewasa. Sejak saat itu, aku takut untuk mengenal makhluk sejenis Adam. Untuk bicara pun aku tak berani. Hanya ayahku dan Dino saja, dua laki-laki yang tak kutakuti.
 ***
Kini aku duduk di kursi taman rumah sakit sambil memandang seorang ibu-ibu berjalan menggandeng anaknya. Aku teringat ibuku yang meninggal sepuluh tahun lalu karena membelaku dari Didik, yang mati kubunuh karena mencoba memperkosaku untuk kedua kalinya di depan ibuku.

***
Lima hari setelah kakiku sembuh dari lumpuh, ayahku meninggall karena tabrak lari. Sejak kematian ayah, aku hanya tinggal berdua dengan ibuku. Malam itu hujan deras sekali.

”Ris, cepat tidur, besok kamu harus sekolah!” perintah ibuku malam itu.

”Iya, Bu!” jawabku.

Setelah aku masuk kamar, aku mendengar suara orang mengetuk pintu. Ibu membukakan pintu dan terjadi percakapan antara ibu dan si tamu. Sepertinya aku mengenal suara itu. Iya, itu Didik. Aku yakin itu suara Didik. aku benar-benar ketakutan mendengar suaranya.

Braaaaak…!!! terdengar suara pintu dibanting. Aku keluar melihat apa yang terjadi. Ibuku berusaha menghalangi Didik untuk masuk ke dalam. Sepertinya Dia mencariku. Tubuh ibu terlalu lemah untuk laki-laki seperti Didik. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Didik mendorong ibuku dan terjatuh hingga kepalanya terentur meja sangat keras. Aku berlari ke arah ibuku.

”Ibu…bangun Bu!” suaraku terisak membangunkan ibuku.

Kurasakan nafasnya namun tak ada tanda bahwa ibuku bernafas. Didik berjalan ke arahku. Aku melihat pisau dapur tergeletak di meja. Kuambil dan kutancapkan ke perut bajingan itu.
”Lebih baik aku dipenjara daripada bajingan itu memperkosaku untuk kedua kalinya.” begitu pikirku.
Seketika, Didik tak bergerak dan kulihat dia tidak bernafas seperti ibuku. Dua mayat tergeletak di depanku. Aku meratap atas kematian ibuku, namun merdeka atas mayat bajingan bernama Didik.

 ***
Semenjak kematian Didik di tanganku, bukan penjara yang kuhuni melainkan rumah sakit jiwa. Orang-orang menganggapku gila semenjak kepergian ayah. Mereka menganggap aku yang membunuh ibuku. Tak ada yang percaya atas pengakuanku jika aku korban perkosaan atas bajingan bernama Didik, kecuali Dino. Dino senantiasa menemaniku saat aku kesepian. Hampir setiap hari dia menjengukku ke rumah sakit selama sepuluh tahun ini.

Hari ini aku belum melihatnya. Mungkin agak siang dia datang menjengukku. Aku masih memperhatikan ibu dengan seorang anaknya yang berjalan semakin menjauh dan menghilang sampai tikungan rumah sakit.

”Ini minum dulu!” suara laki-laki di belakang mengagetkanku sambil menyodorkan sebotol minuman.
Ternyata Dino yang sedari tadi kutunggu. Dia mengambil duduk di sebelahku.

”Kau baik kan?” tanyanya.

”Aku selalu baik.” jawabku singkat.

”Kau menyesal?”

”Tidak…aku tak pernah menyesal membunuh bajingan sepertinya.” jawabku ekstrim.

***

You Might Also Like

0 komentar