“tapi aku tidak bisa denganmu…”
Kata-kata perempuan itu masih
bernyanyi di otak yang penuh dengan masalah yang belum selesai. Bahkan tidak
akan pernah selesai. Menari-nari menertawakan kebodohanku. Menampar harapan dan
membuat luka dari seorang pesakitan ini semakin lebar.
Perkenalanku dengan perempuan itu
adalah wajar selayaknya muda-mudi saling menyapa. Yang aneh adalah hubungan
yang sedang kami jalani. Kami bukan sepasang kekasih. Juga tidak bisa untuk
dikatakan hanya menjalin pertemanan. Kami adalah sepasang kesepian yang
sama-sama memiliki luka.
16 Mei adalah pertemuanku dengan
perempuan itu. Aku mengenalnya sebagai perempuan yang penuh luka. Perempuan
yang merindukan pelukan dari seorang lelaki yang meninggalkannya pada Februari
lalu. Maka, pukul 04.35 wib aku menjemputnya untuk saling menyembuhkan luka.
Parangtritis di pagi hari adalah saksi bagaimana tangannya yang dingin
menggenggam tanganku dengan sangat erat. Tubuhnya yang lelah dan matanya
memerah membuatku ingin sekali meminjamkan bahuku agar ia tertidur.
Lukanya terlalu dalam. Lebih dalam
dari luka yang kubawa ke pantai pada 16 Mei lalu. Luka yang kubawa adalah luka
yang kuciptakan sendiri. Melalui kebosananku terhadap perempuanku.
“Bisa kau memelukku?” pertanyaannya
membuatku semakin ingin memeluknya. Tapi aku teringat akan perempuan yang
menungguku di tempat yang berbeda. Perempuan malang yang merelakan seperempat
abad hidupnya untuk lelaki yang membawa perempuan lain ke pantai 16 Mei. Perempuan di sebelahku ini kembali
melayangkan pertanyaan yang sama berulang-ulang.
“kau begitu merindukan pelukan ya?”
kataku dalam hati. “pelukan bisa membuatmu damai?” tanyaku sambil memandang
hamparan biru saling berkejaran.
“iya.” jawabnya dengan lirih.
Kugapai tubuhnya dan aku merasakan
tubuh yang begitu dingin.
“Sudah?” tanyaku tergesa. Perempuan
itu tak menjawab. “Sudah?” kuulaangi pertanyaanku.
“Iya.” Jawabnya lirih. Hampir tak
kudengar suaranya.
Kulepaskan pelukanku dan kembali
menerawang perempuanku melalui hamparan biru saling berkejaran.
“Bisakah kau tidak bertanya ‘sudah?’
jika sedang memelukku?” perempuan penuh luka itu melontarkan pertanyaan yang
membuatku tidak bisa menjawab kecuali hanya 'maaf'.
***
“Siapa yang kau rindukan selain aku? Apakah
perempuan malangmu itu?” tanya perempuan penuh luka di sampingku.
“Hujan. Aku merindukan hujan. “
jawabku.
“Kenapa?”
“Karena hujan bisa menciptakan gaduh
ketika aku diradang kesepian.”
“Tunggulah, sebentar lagi hujan yang
kau rindu pasti datang. Jika dia benar datang, maka dia adalah hujan
jelmaanku.” Jawab perempuan penuh luka itu dengan tersenyum.
***
Malam itu hujan benar-benar datang.
Tanpa aba-aba. Tanpa langit yang menghitam. Segera kuambil hanphone dan mengetik pesan kepada perempuan penuh luka.
“Hujan ini jelmaanmu?” tanyaku pada
pesan di hanphone.
“mungkin.” Jawabnya singkat.
Aku hanya tersenyum membaca
jawabannya. “Apa kau benar-benar perempuan yang menjelma sebagai hujan?”
tanyaku dalam hati. “JIka benar, buatlah gaduh dalam diri yang kesepian ini.”
Sambil kulempar handphone buatan
China ke tempat tidur dan aku terlelap dalam rengkuhan hujan malam itu.
***
Ingatan tentang perempuan malangku
rasanya sudah mati bersama menguapnya genangan air hujan sisa kemarin malam.
Semudah itukah? Apakah melupakan seseorang semudah menghabiskan sebatang
rokok?
Aku berjalan menyusuri gang kecil
menuju rumah perempuan penuh luka yang sekarang menjadi perempuan penjelma
hujan. Perempuan bermata sayu dan aku menyukai cara ia menatapku.
“Kenapa kau kemari?” tanya perempuan
penjelma hujan.
“Aku ingin melihat matamu.” Jawabku.
“Pergilah…aku sedang ada tamu.”
“Siapa?”
“Lelakiku.” Jawabnya ketus.
“Lelakimu?”
“Iya, lelakiku. Lelaki yang pelukannya
kurindukan sejak Februari lalu.”
“Tapi dia lelaki yang melepaskan
pelukanmu.”
“Dan dia kembali memelukku. Pelukan
hangat yang tidak aku dapatkan dari lelaki sepertimu. Lelaki yang juga memeluk
perempuan lain selain aku. ” Jawabnya.
“Maaf.”
“Aku juga minta maaf, tapi aku tidak
bisa denganmu.” Jawabnya sambil menutup pintu.
Aku berjalan dengan tatapan kosong dan
senyuman kecut. Ternyata benar. Melupakan seseorang semudah menghabiskan
sebatang rokok. Seperti siklus pendek air laut yang menguap menjadi gas.
Seperti aku yang bagi perempuan itu hanya botol bir kosong yang langsung
dibuang. Kalau pun tidak dibuang, disembunyikan di kolong tempat tidur agar
orang lain tidak mengetahuinya. Iya, agar
orang lain tidak mengetahui hubungan kami. Seorang perempuan penjelma hujan
dengan aku, si botol bir.
***
Di sebuah kafe langgananku di Jalan
Mangkubumi, aku duduk sambil memandangi jalan raya melalui dinding kaca. Seorang
pelayan perempuan mengagetkan lamunanku dengan membawa secangkir kopi yang
kupesan sepuluh menit lalu. Dia tersenyum lalu beranjak pergi. Senyuman yang
sama. Seperti perempuanku. Perempuan malang yang dua bulan ini aku tidak tahu
bagaimana keadaannya.
Kuseruput kopi di depanku dan kembali
melanjutkan lamunanku. Sampai aku sadar ada seorang perempuan yang duduk di
depanku. Perempuan yang ada dalam lamunanku. Perempuan malangku. Perempuan yang
telah kulupakan dan dia kembali hadir dalam pikiranku. Kupandangi matanya. Mata
yang begitu teduh.
“Boleh aku meminum kopimu?” tanyanya
tiba-tiba. Tanpa aku menjawab dia sudah mengambil
cangkir berisi setengah kopi yang kuseruput sekali.
“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku.
“Seperti yang kau lihat, masih
menyukai kopi.” Jawabnya dan matanya mulai memerah.
Bersamaan dengan air yang mulai
membasahi dinding kaca, pipinya juga basah dengan air mata. Perempuan malangku.
Bagaimana bisa kau menciptakan hujan melalui matamu bersamaan dengan hujan yang
selalu kurindukan? Tidak. Bukan kau yang menciptakan hujan melalui matamu. Aku
lah yang menciptakan hujan melalui
matamu.
***
