di bawah lampu taman kota
aku mati
tak ada Izrail
pun tak ada teriakan orang sekitar
malam semakin pekat
dan hanya ada anggukan tanda sepakat
Jember, Mei 2011
aku mati
tak ada Izrail
pun tak ada teriakan orang sekitar
malam semakin pekat
dan hanya ada anggukan tanda sepakat
Jember, Mei 2011
Dengan langkah gontai dan mata yang setengah mengantuk, aku berjalan
menyusuri Jalan Jawa IV dengan tas punggung yang masih melekat di
tubuhku. Malam itu, kira-kira pukul 21.45 wib aku baru pulang dari
kampus. Belum terlalu malam untuk seorang perempuan malam sepertiku,
tapi Gang Jawa malam ini tidak seperti biasanya. Malam ini begitu sepi
dan mencekam. Bulu kudukku berdiri ditiup angin yang berhembus tidak
wajar seperti malam sebelumnya.
Setelah sampai di tikungan menuju kosanku, aku mendengar langkah kaki di belakang. Langkahnya serasa mau mengejarku namun tidak ingin diketahui olehku. Jangankan menoleh, melangkah pun aku tak mampu. Waktu seakan berhenti hanya untukku dan mengisyaratkan sebuah doktrin bahwa aku akan mati malam ini. Langkah kaki di belakangku semakin dekat dan tangannya yang panjang mendekapku dari belakang. Aku menjerit tapi sepertinya suaraku tidak dapat didengar oleh orang-orang di dalam kosan. Tak bertahan lama, tubuhku lemas dan akhirnya tak sadarkan diri.
Ketika aku terbangun, aku mendapati selimut tebal melekat di tubuhku dan beberapa kertas berisi puisi bodoh yang kutulis dua hari lalu. Tak ada lagi orang asing yang tadi mendekapku. Kemana dia? ah…skeptis sekali pertanyaanku. Orang itu tidak ada dan tidak pernah ada. Ini semua hanya bunga, si teman tidurku.
Rasanya enggan untuk bangun di hari libur yang jarang kunikmati seperti ini. Namun mengingat cucian yang numpuk dan kamar yang mirip kapal pecah, aku beranjak berdiri dan dengan berat hati meninggalkan kasur empukku. Kubuka jendela kamar diikuti derit terali besi yang sudah berkarat. Matahari menerobos memperlihatkan keangkuhannya tepat di mataku. “ah…sudah pagi ternyata,” desahku. Suara ribut teman-teman kost membuatku malas untuk kembali terlelap. Sekedar merenggangkan otot-otot yang tujuh jam tak berfungsi sepenuhnya, aku melakukakn gerakan kecil agar fungsi ototku kembali normal. Lima belas menit cukup untuk melakukan semua itu.
Aku melangkah menuju tempat cucian dengan membawa setumpuk pakaian yang sudah satu minggu mendekam di kolong tempat tidur. Tak seperti biasanya, hari ini jemuran sepi dari pakaian teman-teman. Itu membuatku berpikir pasti cucianku cepat kering. Tidak lebih dari satu jam aku meninggalkan cucian yang menggantung di jemuran.
Bebas sekali rasanya hari ini. Tak ada ceramah dosen atau pun tugas-tugas yang menjadi rutinitas dari kampus. Aku melihat hp menunggu sms dari seseorang. Tak ada pesan yang kuharapkan. Mungkin dia masih terlelap. Kuarahkan jariku ke menu musik mendengarkan lagu di playlist. Kuputar keras-keras sembari membersihkan si kapal pecah.
Rasa lelah menyelimuti tubuhku. Keringat tak henti-hentinya menetes. Kunyalakan kipas angin dan berbaring di dekat jendela kamarku. Angin semilir menyapaku lembut. Rasa kantuk mulai terasa lagi. Akhirnya tak dapat kutahan dan mataku terpejam. Aku terbangun tepat pukul 15.25 wib, namun tak ada sms dari orang menyebalkan itu.
Aku melihat sesuatu yang ganjal dari jendela. “Sial…hujan deras sekali!” umpatku. Teringat cucian di jemuran, aku berlari dan hampir kepeleset di lantai yang baru saja dipel oleh temanku. Terlambat, cucianku telah basah oleh air hujan dan enggan untuk melihatnya.
Hari semakin sore, namun hujan tak juga berhenti. Sms yang kutunggu tak muncul membuat kekesalanku memuncak. Mengawali bukan sesuatu hal yang buruk. Akhirnya, kukesimpangkan rasa gengsiku untuk sms orang menyebalkan itu. Lebih tepatnya kekasihku yang menyebalkan. Tak beberapa lama, ada balasan darinya. Sebuah permintaan maaf karna tak bisa menemaniku malam ini. Aku maklum karna hujan tak kunjung berhenti. Keterima alasannya dan sesekali memandangi hujan yang menghalangi dia menemuiku. Mataku merah namun kali ini bukan rasa kantuk yang kurasakan, melainkan merah karna hujan tak kunjung reda.
Tepat pukul 18.15 wib, aku mendengar suara motor di depan kosku. Aku mengenal suara motor itu. Aku beranjak keluar dan melihat sesosok orang yang tak asing lagi buatku. Sepertinya, hujan tak membuat dia mengingkari janjinya untuk menemuiku. Kupandangi wajahnya lama-lama dan tubuhnya yang basah oleh air hujan. “Dasar orang bodoh, sudah tau hujan tetap saja kesini!” bentakku keras. Aku menerima alasan dia tidak menemuiku karna hujan, tapi orang bodoh ini malah nekat menerjangnya. Dia tertunduk tak berkata apa-apa. Aku iba melihat hal seperti ini. Kududukkan dia di bangku depan kosan dan mulai mengajaknya bicara pelan. Sebenarnya senang juga dia datang, tapi kalau ujung-ujungnya menimbulkan sakit di tubuhnya ya lebih baik tidak bertemu.
Setelah sampai di tikungan menuju kosanku, aku mendengar langkah kaki di belakang. Langkahnya serasa mau mengejarku namun tidak ingin diketahui olehku. Jangankan menoleh, melangkah pun aku tak mampu. Waktu seakan berhenti hanya untukku dan mengisyaratkan sebuah doktrin bahwa aku akan mati malam ini. Langkah kaki di belakangku semakin dekat dan tangannya yang panjang mendekapku dari belakang. Aku menjerit tapi sepertinya suaraku tidak dapat didengar oleh orang-orang di dalam kosan. Tak bertahan lama, tubuhku lemas dan akhirnya tak sadarkan diri.
Ketika aku terbangun, aku mendapati selimut tebal melekat di tubuhku dan beberapa kertas berisi puisi bodoh yang kutulis dua hari lalu. Tak ada lagi orang asing yang tadi mendekapku. Kemana dia? ah…skeptis sekali pertanyaanku. Orang itu tidak ada dan tidak pernah ada. Ini semua hanya bunga, si teman tidurku.
Rasanya enggan untuk bangun di hari libur yang jarang kunikmati seperti ini. Namun mengingat cucian yang numpuk dan kamar yang mirip kapal pecah, aku beranjak berdiri dan dengan berat hati meninggalkan kasur empukku. Kubuka jendela kamar diikuti derit terali besi yang sudah berkarat. Matahari menerobos memperlihatkan keangkuhannya tepat di mataku. “ah…sudah pagi ternyata,” desahku. Suara ribut teman-teman kost membuatku malas untuk kembali terlelap. Sekedar merenggangkan otot-otot yang tujuh jam tak berfungsi sepenuhnya, aku melakukakn gerakan kecil agar fungsi ototku kembali normal. Lima belas menit cukup untuk melakukan semua itu.
Aku melangkah menuju tempat cucian dengan membawa setumpuk pakaian yang sudah satu minggu mendekam di kolong tempat tidur. Tak seperti biasanya, hari ini jemuran sepi dari pakaian teman-teman. Itu membuatku berpikir pasti cucianku cepat kering. Tidak lebih dari satu jam aku meninggalkan cucian yang menggantung di jemuran.
Bebas sekali rasanya hari ini. Tak ada ceramah dosen atau pun tugas-tugas yang menjadi rutinitas dari kampus. Aku melihat hp menunggu sms dari seseorang. Tak ada pesan yang kuharapkan. Mungkin dia masih terlelap. Kuarahkan jariku ke menu musik mendengarkan lagu di playlist. Kuputar keras-keras sembari membersihkan si kapal pecah.
Rasa lelah menyelimuti tubuhku. Keringat tak henti-hentinya menetes. Kunyalakan kipas angin dan berbaring di dekat jendela kamarku. Angin semilir menyapaku lembut. Rasa kantuk mulai terasa lagi. Akhirnya tak dapat kutahan dan mataku terpejam. Aku terbangun tepat pukul 15.25 wib, namun tak ada sms dari orang menyebalkan itu.
Aku melihat sesuatu yang ganjal dari jendela. “Sial…hujan deras sekali!” umpatku. Teringat cucian di jemuran, aku berlari dan hampir kepeleset di lantai yang baru saja dipel oleh temanku. Terlambat, cucianku telah basah oleh air hujan dan enggan untuk melihatnya.
Hari semakin sore, namun hujan tak juga berhenti. Sms yang kutunggu tak muncul membuat kekesalanku memuncak. Mengawali bukan sesuatu hal yang buruk. Akhirnya, kukesimpangkan rasa gengsiku untuk sms orang menyebalkan itu. Lebih tepatnya kekasihku yang menyebalkan. Tak beberapa lama, ada balasan darinya. Sebuah permintaan maaf karna tak bisa menemaniku malam ini. Aku maklum karna hujan tak kunjung berhenti. Keterima alasannya dan sesekali memandangi hujan yang menghalangi dia menemuiku. Mataku merah namun kali ini bukan rasa kantuk yang kurasakan, melainkan merah karna hujan tak kunjung reda.
Tepat pukul 18.15 wib, aku mendengar suara motor di depan kosku. Aku mengenal suara motor itu. Aku beranjak keluar dan melihat sesosok orang yang tak asing lagi buatku. Sepertinya, hujan tak membuat dia mengingkari janjinya untuk menemuiku. Kupandangi wajahnya lama-lama dan tubuhnya yang basah oleh air hujan. “Dasar orang bodoh, sudah tau hujan tetap saja kesini!” bentakku keras. Aku menerima alasan dia tidak menemuiku karna hujan, tapi orang bodoh ini malah nekat menerjangnya. Dia tertunduk tak berkata apa-apa. Aku iba melihat hal seperti ini. Kududukkan dia di bangku depan kosan dan mulai mengajaknya bicara pelan. Sebenarnya senang juga dia datang, tapi kalau ujung-ujungnya menimbulkan sakit di tubuhnya ya lebih baik tidak bertemu.
Hujan tiba-tiba reda dan mendung mulai
menyingkir. Aku bingung harus berkata apa pada orang di sebelahku.
Kuraih tangannya dan mengisyaratkan senyum untukknya sembari berkata
“terima kasih!”
Jember, 9 Oktober 2010
Cerpen berikut ini adalah salah satu cerpen dalam jurnal cerpen Tikungan #1
Malam itu, langit tampak tak bersahabat. Sejak sore gerimis menyertai si awan kelabu. Para penerbang terlihat berbeda dari hari-hari biasanya, kembali ke sarang lebih awal dari sebelumnya.
Tatapan orang itu tetap tajam dan tak baralih dari mataku. Tubuhnya kesakitan akibat pukulan dari tubuh yang lebih kekar darinya. Malam itu dia dihakimi oleh keluarganya karena mencuri motor milik tetangga dan dijual. Uang hasil penjualan motor dibuatnya untuk berjudi. Aku tak puas melihat pemandangan itu. Dia lebih pantas mendapat perlakuan yang lebih sadis dari ini atas tindakan kejinya satu bulan yang lalu terhadapku. Tak cukup hanya dengan pukulan atau tamparan, dia seharusnya termasuk—seperti kata Soe Hok Gie—”orang-orang yang pantas ditembak mati di lapangan banteng”. Sesekali aku tersenyum melihat dia kesakitan. Dan dia semakin menatap tajam ke arahku, namun tatapanku lebih tajam dari bajingan itu.
”Mati saja kau biadab!” kataku dalam hati.
Ada kepuasan sendiri buatku saat dia berteriak kesakitan mendapat pukulan dari bapaknya. Kejadian itu disaksikan juga oleh beberapa tetangga dan kerabat dekat. Dino, sahabat kecilku yang sedari tadi bermain dengan kelerengnya di sampingku tiba-tiba manatapku ketakutan.
”Wajahmu kenapa?” tanya Dino tanpa memperhatikan kakak sepupunya kesakitan karena pukulan.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. Senyum yang pahit namun mengisyaratkan sesuatu. Dino semakin ketakutan melihat wajahku yang lain dari biasanya. Dia berlari dan bersembunyi di belakang punggung ibunya yang sedari tadi menangis karena keponakannya meraung kesakitan. Tidak lebih dari satu jam, wajah Didik, si laki-laki bejat itu memar oleh tangan bapaknya. Aku semakin menyukai pemandangan ini.
Apa yang dirasakan Didik tak cukup untuk membayar apa yang terjadi padaku belakangan ini. Trauma atas kejadian satu bulan yang lalu tak bisa hilang dari ingatan anak kecil berumur 6 tahun.
Didik mengajak aku dan Dino bermain ke gudang milik nenek mereka. Awalnya aku menolak karena tidak menyukai gudang itu. Tapi Didik bersikeras mengajak kami bermain di gudang. Tempat itu pengap dan hanya sedikit udara yang bisa masuk lewat celah jendela yang tertutup.
”Din, tolong ambilkan gunting di rumah nenek!” perintah Didik tiba-tiba pada Dino.
Dino menurut saja atas perintah Didik dan langsung berlari keluar gudang tanpa bertanya untuk apa Didik menyuruhnya mengambil benda itu.
”Lalu tugasku apa Mas?” tanyaku pada Didik ketakutan.
”Tidak usah, kau disini saja!” jawabnya.
Didik menuju ke arah pintu gudang dan menguncinya dari dalam. Aku semakin tidak mengerti akan hal ini. Kurapatkan tubuhku ke pojok gudang dan duduk bersimpuh sambil memegang erat bonekaku yang sedari tadi kupegang. Didik menuju ke arahku dengan mata yang menakutkan. Dia semakin mendekat dan meraih tubuh kecilku. Aku berteriak namun Didik membungkam mulutku dengan tangannya yang besar.
Engsel pintu gudang bergerak. Sepertinya itu Dino yang berusaha membuka pintu. Aku berusaha keras melepas tangan Didik dari mulutku. Namun sia-sia saja, tenaganya lebih kuat dari anak seumuranku. Engsel pintu tak lagi bergerak. Sepertinya Dino berpikir aku dan Didik sudah pergi meninggalkan gudang. Aku mendengar langkah Dino menjauh dari tempat itu. Pelan-pelan Didik membuka pakaianku dan berbuat hal yang aku sendiri tak paham apa yang dilakukannya. Yang jelas tubuhku kesakitan akan perbuatannya.
Setelah puas akan perlakuannya padaku, laki-laki bajingan itu meninggalakanku yang menangis kesakitan di gudang yang pengap. Langkahku tertatih ke luar gudang menuju rumah dengan bau anyir yang terus keluar dari vagina. Aku semakin bingung apa yang terjadi pada tubuhku.
Tak ada yang mengetahui apa yang terjadi padaku, kecuali diriku sendiri. Semua orang menganggap kakiku lumpuh kerena terjatuh. Ibuku lega melihat putrinya dapat berjalan seperti semula. Kakiku memang kembali normal, namun trauma itu tetap menghantui sampai aku beranjak dewasa. Sejak saat itu, aku takut untuk mengenal makhluk sejenis Adam. Untuk bicara pun aku tak berani. Hanya ayahku dan Dino saja, dua laki-laki yang tak kutakuti.
”Ris, cepat tidur, besok kamu harus sekolah!” perintah ibuku malam itu.
”Iya, Bu!” jawabku.
Setelah aku masuk kamar, aku mendengar suara orang mengetuk pintu. Ibu membukakan pintu dan terjadi percakapan antara ibu dan si tamu. Sepertinya aku mengenal suara itu. Iya, itu Didik. Aku yakin itu suara Didik. aku benar-benar ketakutan mendengar suaranya.
Braaaaak…!!! terdengar suara pintu dibanting. Aku keluar melihat apa yang terjadi. Ibuku berusaha menghalangi Didik untuk masuk ke dalam. Sepertinya Dia mencariku. Tubuh ibu terlalu lemah untuk laki-laki seperti Didik. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Didik mendorong ibuku dan terjatuh hingga kepalanya terentur meja sangat keras. Aku berlari ke arah ibuku.
”Ibu…bangun Bu!” suaraku terisak membangunkan ibuku.
Kurasakan nafasnya namun tak ada tanda bahwa ibuku bernafas. Didik berjalan ke arahku. Aku melihat pisau dapur tergeletak di meja. Kuambil dan kutancapkan ke perut bajingan itu.
”Lebih baik aku dipenjara daripada bajingan itu memperkosaku untuk kedua kalinya.” begitu pikirku.
Seketika, Didik tak bergerak dan kulihat dia tidak bernafas seperti ibuku. Dua mayat tergeletak di depanku. Aku meratap atas kematian ibuku, namun merdeka atas mayat bajingan bernama Didik.
Hari ini aku belum melihatnya. Mungkin agak siang dia datang menjengukku. Aku masih memperhatikan ibu dengan seorang anaknya yang berjalan semakin menjauh dan menghilang sampai tikungan rumah sakit.
”Ini minum dulu!” suara laki-laki di belakang mengagetkanku sambil menyodorkan sebotol minuman.
Ternyata Dino yang sedari tadi kutunggu. Dia mengambil duduk di sebelahku.
”Kau baik kan?” tanyanya.
”Aku selalu baik.” jawabku singkat.
”Kau menyesal?”
”Tidak…aku tak pernah menyesal membunuh bajingan sepertinya.” jawabku ekstrim.
Malam itu, langit tampak tak bersahabat. Sejak sore gerimis menyertai si awan kelabu. Para penerbang terlihat berbeda dari hari-hari biasanya, kembali ke sarang lebih awal dari sebelumnya.
Tatapan orang itu tetap tajam dan tak baralih dari mataku. Tubuhnya kesakitan akibat pukulan dari tubuh yang lebih kekar darinya. Malam itu dia dihakimi oleh keluarganya karena mencuri motor milik tetangga dan dijual. Uang hasil penjualan motor dibuatnya untuk berjudi. Aku tak puas melihat pemandangan itu. Dia lebih pantas mendapat perlakuan yang lebih sadis dari ini atas tindakan kejinya satu bulan yang lalu terhadapku. Tak cukup hanya dengan pukulan atau tamparan, dia seharusnya termasuk—seperti kata Soe Hok Gie—”orang-orang yang pantas ditembak mati di lapangan banteng”. Sesekali aku tersenyum melihat dia kesakitan. Dan dia semakin menatap tajam ke arahku, namun tatapanku lebih tajam dari bajingan itu.
”Mati saja kau biadab!” kataku dalam hati.
Ada kepuasan sendiri buatku saat dia berteriak kesakitan mendapat pukulan dari bapaknya. Kejadian itu disaksikan juga oleh beberapa tetangga dan kerabat dekat. Dino, sahabat kecilku yang sedari tadi bermain dengan kelerengnya di sampingku tiba-tiba manatapku ketakutan.
”Wajahmu kenapa?” tanya Dino tanpa memperhatikan kakak sepupunya kesakitan karena pukulan.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. Senyum yang pahit namun mengisyaratkan sesuatu. Dino semakin ketakutan melihat wajahku yang lain dari biasanya. Dia berlari dan bersembunyi di belakang punggung ibunya yang sedari tadi menangis karena keponakannya meraung kesakitan. Tidak lebih dari satu jam, wajah Didik, si laki-laki bejat itu memar oleh tangan bapaknya. Aku semakin menyukai pemandangan ini.
Apa yang dirasakan Didik tak cukup untuk membayar apa yang terjadi padaku belakangan ini. Trauma atas kejadian satu bulan yang lalu tak bisa hilang dari ingatan anak kecil berumur 6 tahun.
***
Dino, sahabatku, lebih tua satu tahun dariku. Hampir setiap hari kami
selalu bermain bersama. Kedua orang tua kami juga bersahabat. Siang
itu, Didik, kakak sepupu Dino tiba-tiba datang dan bergabung bersama
kami. Didik lebih tua sepuluh tahun dariku dan sembilan tahun dari Dino.
Sejak pertama kali melihat Didik aku langsung tidak menyukai orang ini.
Tatapannya yang menakutkan membuatku tak berani dekat-dekat dengannya.
Aku mengenalnya lama dan setiap bertemu Didik, aku selalu menundukkan
kepala kerena takut. Wajahnya juga tak bersahabat denganku. Entah setan
apa yang merasuki tubuhnya, siang itu, Didik tiba-tiba baik sekali
padaku. Wajahnya selalu tersenyum setiap melihatku. Tapi aku malah
semakin muak melihatnya demikian.Didik mengajak aku dan Dino bermain ke gudang milik nenek mereka. Awalnya aku menolak karena tidak menyukai gudang itu. Tapi Didik bersikeras mengajak kami bermain di gudang. Tempat itu pengap dan hanya sedikit udara yang bisa masuk lewat celah jendela yang tertutup.
”Din, tolong ambilkan gunting di rumah nenek!” perintah Didik tiba-tiba pada Dino.
Dino menurut saja atas perintah Didik dan langsung berlari keluar gudang tanpa bertanya untuk apa Didik menyuruhnya mengambil benda itu.
”Lalu tugasku apa Mas?” tanyaku pada Didik ketakutan.
”Tidak usah, kau disini saja!” jawabnya.
Didik menuju ke arah pintu gudang dan menguncinya dari dalam. Aku semakin tidak mengerti akan hal ini. Kurapatkan tubuhku ke pojok gudang dan duduk bersimpuh sambil memegang erat bonekaku yang sedari tadi kupegang. Didik menuju ke arahku dengan mata yang menakutkan. Dia semakin mendekat dan meraih tubuh kecilku. Aku berteriak namun Didik membungkam mulutku dengan tangannya yang besar.
Engsel pintu gudang bergerak. Sepertinya itu Dino yang berusaha membuka pintu. Aku berusaha keras melepas tangan Didik dari mulutku. Namun sia-sia saja, tenaganya lebih kuat dari anak seumuranku. Engsel pintu tak lagi bergerak. Sepertinya Dino berpikir aku dan Didik sudah pergi meninggalkan gudang. Aku mendengar langkah Dino menjauh dari tempat itu. Pelan-pelan Didik membuka pakaianku dan berbuat hal yang aku sendiri tak paham apa yang dilakukannya. Yang jelas tubuhku kesakitan akan perbuatannya.
Setelah puas akan perlakuannya padaku, laki-laki bajingan itu meninggalakanku yang menangis kesakitan di gudang yang pengap. Langkahku tertatih ke luar gudang menuju rumah dengan bau anyir yang terus keluar dari vagina. Aku semakin bingung apa yang terjadi pada tubuhku.
***
Satu hari sejak kejadian itu, kakiku lumpuh. Aku pun menjadi anak
yang pendiam. Tak banyak bicara pada semua orang, termasuk orang tuaku.
Ibuku hanya bisa menangis melihat putri semata wayangnya berubah
demikian. Setiap pagi, ayahku menggendongku ke sekolah karena aku memang
tak bisa berjalan sama sekali. Untuk menggerakkan kakiku sedikit pun,
aku tak mampu. Sejak kakiku lumpuh, teman-temanku juga mulai mejauhuiku.
Hanya Dino yang mau berteman dengan anak lumpuh sepertiku. Dino
senantiasa menemaniku bermain di rumah setiap hari.
***
Akhirnya ayahku memutuskan untuk membawaku ke seorang dukun pijat
kenalannya. Selang beberapa hari, kakiku mulai pulih. Aku sudah bisa
menggerakkan kakiku dan mulai bisa berjalan. Walaupun keadaan kakiku
mulai pulih, namun bayangan tentang laki-laki bajingan itu tak bisa
baralih dari ingatanku. Semakin hari, wajahnya semakin menjijikkan saja.Tak ada yang mengetahui apa yang terjadi padaku, kecuali diriku sendiri. Semua orang menganggap kakiku lumpuh kerena terjatuh. Ibuku lega melihat putrinya dapat berjalan seperti semula. Kakiku memang kembali normal, namun trauma itu tetap menghantui sampai aku beranjak dewasa. Sejak saat itu, aku takut untuk mengenal makhluk sejenis Adam. Untuk bicara pun aku tak berani. Hanya ayahku dan Dino saja, dua laki-laki yang tak kutakuti.
***
Kini aku duduk di kursi taman rumah sakit sambil memandang seorang
ibu-ibu berjalan menggandeng anaknya. Aku teringat ibuku yang meninggal
sepuluh tahun lalu karena membelaku dari Didik, yang mati kubunuh karena
mencoba memperkosaku untuk kedua kalinya di depan ibuku.
***
Lima hari setelah kakiku sembuh dari lumpuh, ayahku meninggall karena
tabrak lari. Sejak kematian ayah, aku hanya tinggal berdua dengan
ibuku. Malam itu hujan deras sekali.”Ris, cepat tidur, besok kamu harus sekolah!” perintah ibuku malam itu.
”Iya, Bu!” jawabku.
Setelah aku masuk kamar, aku mendengar suara orang mengetuk pintu. Ibu membukakan pintu dan terjadi percakapan antara ibu dan si tamu. Sepertinya aku mengenal suara itu. Iya, itu Didik. Aku yakin itu suara Didik. aku benar-benar ketakutan mendengar suaranya.
Braaaaak…!!! terdengar suara pintu dibanting. Aku keluar melihat apa yang terjadi. Ibuku berusaha menghalangi Didik untuk masuk ke dalam. Sepertinya Dia mencariku. Tubuh ibu terlalu lemah untuk laki-laki seperti Didik. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Didik mendorong ibuku dan terjatuh hingga kepalanya terentur meja sangat keras. Aku berlari ke arah ibuku.
”Ibu…bangun Bu!” suaraku terisak membangunkan ibuku.
Kurasakan nafasnya namun tak ada tanda bahwa ibuku bernafas. Didik berjalan ke arahku. Aku melihat pisau dapur tergeletak di meja. Kuambil dan kutancapkan ke perut bajingan itu.
”Lebih baik aku dipenjara daripada bajingan itu memperkosaku untuk kedua kalinya.” begitu pikirku.
Seketika, Didik tak bergerak dan kulihat dia tidak bernafas seperti ibuku. Dua mayat tergeletak di depanku. Aku meratap atas kematian ibuku, namun merdeka atas mayat bajingan bernama Didik.
***
Semenjak kematian Didik di tanganku, bukan penjara yang kuhuni
melainkan rumah sakit jiwa. Orang-orang menganggapku gila semenjak
kepergian ayah. Mereka menganggap aku yang membunuh ibuku. Tak ada yang
percaya atas pengakuanku jika aku korban perkosaan atas bajingan bernama
Didik, kecuali Dino. Dino senantiasa menemaniku saat aku kesepian.
Hampir setiap hari dia menjengukku ke rumah sakit selama sepuluh tahun
ini.Hari ini aku belum melihatnya. Mungkin agak siang dia datang menjengukku. Aku masih memperhatikan ibu dengan seorang anaknya yang berjalan semakin menjauh dan menghilang sampai tikungan rumah sakit.
”Ini minum dulu!” suara laki-laki di belakang mengagetkanku sambil menyodorkan sebotol minuman.
Ternyata Dino yang sedari tadi kutunggu. Dia mengambil duduk di sebelahku.
”Kau baik kan?” tanyanya.
”Aku selalu baik.” jawabku singkat.
”Kau menyesal?”
”Tidak…aku tak pernah menyesal membunuh bajingan sepertinya.” jawabku ekstrim.
***
Bagaimana bisa kau ucap cintaku platonik Sedang rasa yang kau punya, menjadi rahasia yang haram untuk kau bongkar sendiri Kau gelisah, meracau, dan menghilang dari keramaian Sedang di sini, aku kacau dalam perantauan sialmu Ditemani nyamuk dan berbantal kamus tebal, sering kumenatap pintu melihat sosokmu yang kurus datang tiba-tiba Namun itu semu, kau tak pernah berdiri di sana Pernah tengah malam yang pekat dan penuh misteri, Saat bulan tak muncul malam itu, dan bintang bersembunyi di balik awan tebalnya, masih lekat dalam-dalam, kau berdiri di pintu dengan senyum tak berdosa melihatku “Itukah, kau?” tanyaku pada hati yang kacau ini, mungkin lebih kacau dari sebelumnya. Ingin kumenagih janji, tentang sepenggal puisi yang akan kita baca di pantai, tentang secangkir kopi, menulis tentang satu hal berdua, tentang aroma laut, dan tentang cerita dermaga di dekat rumahmu Lalu, tentang apa lagi? Kurasa sebelum aku mengucapkan semua itu, aku lebih dulu memilih titik untuk kita, kau dan aku. Jember, Juli 2011
