Tepat malam ini, satu tahun lalu. Tubuh saya seperti mati rasa. Seseorang yang berarti dalam hidup saya telah berpulang dan meninggalkan begitu banyak kenangan. Beliau adalah nenek saya. Bukan, lebih tepatnya beliau adalah ibu kedua saya. Sejak kecil beliau lah yang paling banyak menghabiskan waktunya dengan saya. Sejak TK, mulai dari bangun pagi, mandi, berangkat sekolah, pulang, bermain, hingga kembali tidur di malam hari semua tidak lepas dari pengawasan nenek. Belajar memasak sewaktu SD juga dari beliau. Pernah suatu kali, saat TK kaki saya tiba-tiba lumpuh dan tidak bisa berjalan. Dengan punggungnya yang masih kuat, nenek menggendong saya ke rumah tukang pijat untuk berobat. Kira-kira berjarak 2 km dari rumah. Selang beberapa hari kaki saya sembuh. Nenek lah yang paling bahagia melihat tumbuh kembang saya menjadi baik.
Saya beranjak dewasa, tidur pun masih dengan nenek. Wajahnya yang teduh, selalu mengingatkan saya pada Hujan Bulan Juni yang menenangkan. Dulu, ketika nenek akan pergi ke rumah paman di kota, saya selalu mengunci lemari pakaian dan membawa kuncinya ke sekolah. Saya berpikir dengan begitu nenek tidak akan pernah pergi ke kota. Rencana hanya tinggal rencana. Ayah datang ke sekolah dan mengambil kunci lemari. Jika sudah begitu, saya menangis di dalam kelas tanpa sepengetahuan guru dan teman-teman. Kejadian saya menyembunyikan pakaian nenek di lemari dan menguncinya tidak hanya terjadi sekali atau dua kali. Setiap nenek akan ke kota untuk menjenguk paman, saya selalu bersikap demikian.
Hingga lulus SMA dan saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jember. Sejak saat itu saya tidak tidur lagi dengan nenek. Hanya ketika pulang saat liburan saja dan itu bisa dihitung. Lulus kuliah saya memutuskan bekerja di Jogja. Waktu dengan nenek makin banyak berkurang. Hingga 2 tahun saya bekerja di Jogja dan memutuskan untuk pulang.
Saya sadar, tubuh nenek semakin renta. Wajahnya yang dulu segar menjadi keriput. Dan nenek menjadi pelupa. Beliau kadang bisa lupa pada ayah namun tidak dengan saya. Dari cerita ibu, nenek selalu menanyakan saya ketika saya tidak di rumah. Nenek selalu bertanya apakah saya sudah makan. Dan itu ditanyakan berulang kali.
23 Mei 2018.
Malam itu tiba-tiba saya tidak ada niat untuk berangkat terawih. Ingin di rumah saja. Waktu itu nenek sakit. Saya ingin menunggunya. Ibu juga. Tidak sedang ingin terawih. Padahal ibu setiap tahun tidak pernah sekali pun absen pergi terawih. Ketika sedang menunggu nenek, saya ingin keluar sebentar ke toko untuk membeli sesuatu. Dalam perjalanan pikiran saya kosong dan tiba-tiba memutar kembali motor untuk segera pulang.
Segala yang hidup akan kembali pada Pencipta. Nenek berpulang padaNya. Kaki saya kaku. Mati rasa. Tubuh renta di depan saya tidak bergerak sama sekali. Wajahnya memucat.
Kehilangan dan mengikhlaskan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus dipersiapkan. Kehilangan, serupa bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Dan mengikhlaskan, serupa hujan yang dapat meredam api dari ledakan bom. Tidak ada yang bisa mengobati kehilangan, kecuali hati yang ikhlas.
Kehilangan dan mengikhlaskan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus dipersiapkan. Kehilangan, serupa bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Dan mengikhlaskan, serupa hujan yang dapat meredam api dari ledakan bom. Tidak ada yang bisa mengobati kehilangan, kecuali hati yang ikhlas.

