Dua Perempuan Itu

14.46

“tapi aku tidak bisa denganmu…”

Kata-kata perempuan itu masih bernyanyi di otak yang penuh dengan masalah yang belum selesai. Bahkan tidak akan pernah selesai. Menari-nari menertawakan kebodohanku. Menampar harapan dan membuat luka dari seorang pesakitan ini semakin lebar.

Perkenalanku dengan perempuan itu adalah wajar selayaknya muda-mudi saling menyapa. Yang aneh adalah hubungan yang sedang kami jalani. Kami bukan sepasang kekasih. Juga tidak bisa untuk dikatakan hanya menjalin pertemanan. Kami adalah sepasang kesepian yang sama-sama memiliki luka. 

16 Mei adalah pertemuanku dengan perempuan itu. Aku mengenalnya sebagai perempuan yang penuh luka. Perempuan yang merindukan pelukan dari seorang lelaki yang meninggalkannya pada Februari lalu. Maka, pukul 04.35 wib aku menjemputnya untuk saling menyembuhkan luka. Parangtritis di pagi hari adalah saksi bagaimana tangannya yang dingin menggenggam tanganku dengan sangat erat. Tubuhnya yang lelah dan matanya memerah membuatku ingin sekali meminjamkan bahuku agar ia tertidur. 

Lukanya terlalu dalam. Lebih dalam dari luka yang kubawa ke pantai pada 16 Mei lalu. Luka yang kubawa adalah luka yang kuciptakan sendiri. Melalui kebosananku terhadap perempuanku.

“Bisa kau memelukku?” pertanyaannya membuatku semakin ingin memeluknya. Tapi aku teringat akan perempuan yang menungguku di tempat yang berbeda. Perempuan malang yang merelakan seperempat abad hidupnya untuk lelaki yang membawa perempuan lain ke pantai 16 Mei. Perempuan di sebelahku ini kembali melayangkan pertanyaan yang sama berulang-ulang. 


“kau begitu merindukan pelukan ya?” kataku dalam hati. “pelukan bisa membuatmu damai?” tanyaku sambil memandang hamparan biru saling berkejaran.
“iya.” jawabnya dengan lirih.
Kugapai tubuhnya dan aku merasakan tubuh yang begitu dingin.
“Sudah?” tanyaku tergesa. Perempuan itu tak menjawab. “Sudah?” kuulaangi pertanyaanku.
“Iya.” Jawabnya lirih. Hampir tak kudengar suaranya.

Kulepaskan pelukanku dan kembali menerawang perempuanku melalui hamparan biru saling berkejaran. 

“Bisakah kau tidak bertanya ‘sudah?’ jika sedang memelukku?” perempuan penuh luka itu melontarkan pertanyaan yang membuatku tidak bisa menjawab kecuali hanya 'maaf'. 

***
“Siapa yang kau rindukan selain aku? Apakah perempuan malangmu itu?” tanya perempuan penuh luka di sampingku.
“Hujan. Aku merindukan hujan. “ jawabku.
“Kenapa?”
“Karena hujan bisa menciptakan gaduh ketika aku diradang kesepian.”
“Tunggulah, sebentar lagi hujan yang kau rindu pasti datang. Jika dia benar datang, maka dia adalah hujan jelmaanku.” Jawab perempuan penuh luka itu dengan tersenyum.

***
Malam itu hujan benar-benar datang. Tanpa aba-aba. Tanpa langit yang menghitam. Segera kuambil hanphone dan mengetik pesan kepada perempuan penuh luka.

“Hujan ini jelmaanmu?” tanyaku pada pesan di hanphone.
“mungkin.” Jawabnya singkat.

Aku hanya tersenyum membaca jawabannya. “Apa kau benar-benar perempuan yang menjelma sebagai hujan?” tanyaku dalam hati. “JIka benar, buatlah gaduh dalam diri yang kesepian ini.” Sambil kulempar handphone buatan China ke tempat tidur dan aku terlelap dalam rengkuhan hujan malam itu. 

***
Ingatan tentang perempuan malangku rasanya sudah mati bersama menguapnya genangan air hujan sisa kemarin malam. Semudah itukah? Apakah melupakan seseorang semudah menghabiskan sebatang rokok? 
Aku berjalan menyusuri gang kecil menuju rumah perempuan penuh luka yang sekarang menjadi perempuan penjelma hujan. Perempuan bermata sayu dan aku menyukai cara ia menatapku. 

“Kenapa kau kemari?” tanya perempuan penjelma hujan.
“Aku ingin melihat matamu.” Jawabku.
“Pergilah…aku sedang ada tamu.”
“Siapa?”
“Lelakiku.” Jawabnya ketus.
“Lelakimu?”
“Iya, lelakiku. Lelaki yang pelukannya kurindukan sejak Februari lalu.”
“Tapi dia lelaki yang melepaskan pelukanmu.”
“Dan dia kembali memelukku. Pelukan hangat yang tidak aku dapatkan dari lelaki sepertimu. Lelaki yang juga memeluk perempuan lain selain aku. ” Jawabnya.
“Maaf.”
“Aku juga minta maaf, tapi aku tidak bisa denganmu.” Jawabnya sambil menutup pintu. 

Aku berjalan dengan tatapan kosong dan senyuman kecut. Ternyata benar. Melupakan seseorang semudah menghabiskan sebatang rokok. Seperti siklus pendek air laut yang menguap menjadi gas. Seperti aku yang bagi perempuan itu hanya botol bir kosong yang langsung dibuang. Kalau pun tidak dibuang, disembunyikan di kolong tempat tidur agar orang lain tidak mengetahuinya.  Iya, agar orang lain tidak mengetahui hubungan kami. Seorang perempuan penjelma hujan dengan aku, si botol bir. 

***
Di sebuah kafe langgananku di Jalan Mangkubumi, aku duduk sambil memandangi jalan raya melalui dinding kaca. Seorang pelayan perempuan mengagetkan lamunanku dengan membawa secangkir kopi yang kupesan sepuluh menit lalu. Dia tersenyum lalu beranjak pergi. Senyuman yang sama. Seperti perempuanku. Perempuan malang yang dua bulan ini aku tidak tahu bagaimana keadaannya. 

Kuseruput kopi di depanku dan kembali melanjutkan lamunanku. Sampai aku sadar ada seorang perempuan yang duduk di depanku. Perempuan yang ada dalam lamunanku. Perempuan malangku. Perempuan yang telah kulupakan dan dia kembali hadir dalam pikiranku. Kupandangi matanya. Mata yang begitu teduh. 

“Boleh aku meminum kopimu?” tanyanya tiba-tiba. Tanpa aku menjawab dia sudah mengambil cangkir berisi setengah kopi yang kuseruput sekali. 

“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku.
“Seperti yang kau lihat, masih menyukai kopi.” Jawabnya dan matanya mulai memerah.

Bersamaan dengan air yang mulai membasahi dinding kaca, pipinya juga basah dengan air mata. Perempuan malangku. Bagaimana bisa kau menciptakan hujan melalui matamu bersamaan dengan hujan yang selalu kurindukan? Tidak. Bukan kau yang menciptakan hujan melalui matamu. Aku lah yang menciptakan hujan melalui matamu.
***



You Might Also Like

0 komentar